Selasa, 04 April 2017

“ANTARA KEBANGGAAN DAN KEPERCAYAAN”


LIGA SANTRI REGIONAL DKI JAKARTA 2016
“ANTARA KEBANGGAAN DAN KEPERCAYAAN”


Ajang Liga Santri (LSN) Regional DKI Jakarta, adalah momen bersejarah dan membanggakan bagi tim sepakbola Ponpes Luhur Al-Tsaqafah. Meski langkahnya terhenti di babak Semifinal, tapi itu adalah satu capaian yang membanggakan bagi tim PP Luhur Al-Tsaqafah.

Perjuangan Keiikutsertaan

Kisah ini berawal dari salah seorang pengurus pondok yang memberikan informasi tentang adanya kompetisi Liga Santri 2016, di regional DKI Jakarta. Kebetulan pengurus tadi sudah masuk di grup resmi LSN regional DKI Jakarta. Sontak, saya yang mendengar kabar tersebut, tanpa pikir panjang langsung mencari informasi, dan meminta nomor kontak panitia. Karena saya juga penasaran dengan ajang LSN yang sudah berlangsung sejak tahun 2015.

Setelah mendapat nomor kontak panitia, saya langsung menghubunginya. Pada awalnya, pihak panitia memberikan respon yang kurang bersahabat. Namun, setelah saya memperkenalkan nama pengasuh Ponpes Luhur Al-Tsaqafah (Buya Said), langsung di respon sangat baik. Pihak panitia langsung memasukan nama Al-Tsaqafah sebagai peserta, bukan lagi sebagai daftar tunggu. Ketika melihat di list resmi grup LSN regional DKI Jakarta, nama Ponpes Luhur Al-Tsaqafah berada di urutan 12 dari 32 peserta.

Tahap Seleksi Pemain

Setelah terdaftar sebagai peserta, saya meminta izin ke pengasuh dan kepala pondok. Alhamdulillah, pengasuh dan kepala pondok memberikan izin. Karena telah mendapat izin, maka saya haus bertindak cepat untuk mencari pemain. Dengan keterbatasan saya, saya menunjuk 22 pemain (dari santri Mts dan Aliyah) yang biasa bermain sepakbola di lapangan pondok, untuk mengikuti tahap seleksi.

Setelah mendapat 22 pemain, saya langsung adakan seleksi di lapangan pondok. Tiga tahapan paling dasar dalam seleksi adalah tentang fisik pemain, dan teknik dasar permainan sepakbola (pasing, dribling, kontrol, dan tendangan). Walhasil dari 22 yang mengikuti seleksi, terpilih 18 pemain yang didaftarkan ke kompetisi LSN.

Berikut 18 nama pemain Ponpes Luhur Al-Tsaqafah : M. Husni, Khaerul Mustofa (Kiper), Azka Auliya, Banu, Gofir, Lutfan, Mudzakir, Syoleh, Mughni Labib (Bek), Yasin, Irvan Maulana, Mughi, Tanwiely, Ilham Amalia, Pandi (Tengah), Sakha Aji, Abidzar, Saroji.
Empat pemain yang gagal seleksi adalah Rizky Syawal, Syaeful Mustaqim, M. Huda, Rony.

Persiapan yang mepet

Waktu kompetisi yang mepet, maka persiapan harus se-efektif mungkin. Dimulai dari penyusunan jadwal latihan agar tidak bentrok dengan agenda kegiatan pondok dan belajar sekolah.
Hanya ada waktu tiga hari yang pas untuk jadwal latihan, hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Mengingat waktu kegiatan di pondok cukup padat, dan  anak-anak tidak kecapean, hanya dua hari waktu yang digunakan latihan (Jum’at sore dan Minggu pagi).
Setiap Jum’at, latihan difokuskan terhadap fisik pemain, teknik dasar perminan sepakbola (pasing dan kontrol bola), sementara dihari Minggu, latihan difokuskan pada taktik permainan.
Lapangan yang digunakan untuk latihan di hari Jum’at adalah lapangan pondok, sementara  latihan di hari Minggu mengunakan lapangan umum yang berjarak sekitar 1 km dari pondok, dengan membayar sewa lapangan. Untuk membayar sewa lapangan, para pemain patungan. Untuk berangkat ke lapangan, para pemain berlari. Sementara  untuk minum, para pemain membawa air minum dari pondok. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melatih kebersamaan dan kekompakan tim.

Technical meeting

Technical meeting diadakan di Sektariat LSN regional DKI Jakarta, tepatnya di daerah Petamburan, Jakarta Pusat. Pada technical meeting ini, hampir semua kontestan hadir. Dipimpin langsung oleh ketua LSN regional DKI Jakarta, Bpk Sumarsono dan Bpk. M. Kusnaeni (komentator sepakbola ternama Indonesia) yang akrab di telivisi.

Dari hasil technical meeting, ada poin-poin penting pada penyelenggaraan LSN, yakni diantaranya tentang kewajiban pemain (seragam tim, seragam kaos kaki, pelindung kaki). Sementara untuk venue/stadion yang digunakan selama babak penyisihan sampai semi final berlangsung di stadion Ragunan (stadion yang pernah digunakan latihan tim Persija), dan untuk partai final di stadion GOR Brojo Soemantri, Kuningan, Jakarta.

Adapun hasil drowing/undian, tim Ponpes Luhur Al-Tsaqafah akan berhadapan dengan tim Ponpes Miftahiyah, Clincing, Jakarta Utara.

Seragam

Persoalan lain dari mepetnya kompetisi, adalah seragam tim. Ponpes Luhur Al-Tsaqafah belum mempunyai seragam tim, kaos kaki dan pelindung kaki (deker).

Sepulang technical meeting, saya mengumpulkan para pemain untuk memberitahukan hasil dari technical meeting. Point-point hasil technical meeting saya sampaiakan emua kepada pemain, mulai dari seragam, jadwal pertandingan, hingga lawan yang akan dihadapi.

Dalam pertemuan tersebut, dengan nada bercanda, saya berkata kepada semua pemain, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah bisa masuk ke Semifinal.
Itu kayakinan dan tekad saya, yang ingin saya tularkan juga ke seluruh pemain. Saya berharap, kata-kata tadi bisa memompa semangat dan keyakinan seluruh pemain, agar tidak minder dalam berkompetisi dan berani bermimpi. Semua pemain mengaimininya.

Tapi, pak, kenapa targetnya hanya semi final, kenapa tidak final atau juara ?? tanya beberapa pemain. “Kalau nanti kita lanjut ke partai final, kita tidak akan bisa main.” Jawab saya.
“Loh, kenapa bisa begitu, pak ?” tanya pemain lagi. ”Karena pas partai final, acaranya bentrok dengan acara pernikahan Ibu Nyai. Jadi, acara itu lebih penting dari LSN. Jadi, sebagai santri yang baik dan sebagai bentuk ta’dzim, kita harus lebih memilih acara keluarga besar Al-Tsaqafah.” Jawab saya.

Besoknya, saya membeli perlengkapan pemain (seragam tim, kaos kaki, dan pelindung kaki). Saya mencari seragam yang identik dengan warna kebanggan Ponpes Luhur Al-Tsaqafah, yaitu hijau. Alhamdulilah, seharian itu perlengkapan tim bisa didapatkan semuanya.
Sekarang tinggal fokus kepemantapan strategi dan kekompakan pemain selama dilapangan.  

Persiapan Terakhir sebelum laga Perdana

Untuk latihan terakhir, saya fokuskan pada mental dan teknik permainan, mulai teknik individu, pemanmanfaatan bola mati, mengantisipasi bola mati dari lawan, serta kekompakan permainan secara tim. Sementara, untuk pola yang akan dipakai adalah 4-2-3-1. Pola ini adalah faforit saya sejak menjadi pemain. Karena pola ini sangat kuat dalam bertahan dan menyerang. Keunggulan lainnya adalah permainan cepat dari sektor sayap (ilham di kanan dan Saroji di kiri), serta kemampuan tendangan jarak jauh dari sektor gelandang serang (pandi), dan pemanfaatan peluang oleh striker (Sakha), akan menjadi faktor pembeda.

Selain latihan teknik dan taktik, di hari terakhir latihan diberikan pengarahan tentang sikap pemain selama di dalam maupun diluar lapangan. Seperti menghormati teman, menghormati wasit dan pemain lawan, bersalaman dengan pelatih dan pemain lain sebelum maupun sesudah bertanding, menjunjung tinggi sprotifitas, tos tim, dan berdo’a bersama sebelum dimulai maupun sesudah bertanding.

Alhamdulillah, semua itu bisa dijalankan semua pemain selama mengikuti kompetisi LSN regional DKI Jakarta 2016.


Vini, Vidi, Vici

Mendapat jadwal bertanding pertama, pada jam 08.00 wib. Ada kekhawatiran jika datang terlambat dan terkena Walk Out (Wo). Maka, untuk mensiasatinya, tim harus sudah jalan menuju lapangan pukul 06.00 wib. Alhamdulillah perjalanan menuju lapangan lancar.

Waktu sudah menunjukan jam 08.00 wib, tim lawan pun sudah berada dilapangan, begitu juga dengan Panitia. Sebelum pertandingan dimulai, saya memberikan pengarahan dan pemantapan tim terakhir, agar semua pemain bermain dengan lepas tanpa beban dilapangan. Biasanya, pertandingan perdana, semua pemain masih gugup. Untuk mengatasinya adalah dengan bermain tenang dan kompak.  

Alhamdulillah, instruksi dan arahan bisa dijalankan dengan baik para pemain dilapangan. Pertandingan pertama Ponpes Luhur Al-Tsaqafah menang atas Ponpes Al-Miftahiyah dengan skor 3-1 (pencetak gol ; Pandi, Yasin, Saroji).
Kemenangan ini, membawa tim Ponpes Luhur Al-Tsaqafah lolos ke babak selanjutnya. Di babak 16 besar, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah akan mengahadapi tim Ponpes An-Nuriyah. Pertandingan ini bertajuk Derby Ciganjur, karena kedua tim sama-sama berasal dari Ciganjur. Bahkan, jarak keduanya hanya 500 m.  

Bermain Sabar dan Taktis adalah kuncinya

Dipertandingan kedua, saya memberi instruksi kepada pemain agar bermain cerdas, sabar, dan disiplin. Karena melihat kondisi kedua tim sudah bermain di pagi hari, sehingga kondisi para pemain belum 100 persen fit. Tim yang efektif dan bisa mengatur tempo permainan bisa dikatakan akan menjadi pemenangnya.

Dipertandiangan kedua, strategi yang akan digunakan di babak pertama adalah dengan membiarkan tim lawan bermain menekan dengan intensitas tinggi, dan membiarkan tim  lawan menyerang dengan mengeluarkan tenaga yang banyak, sementara kita menunggu, dan memanfaatkan serangan balik cepat. Terbukti, taktik ini cukup ampuh, bahkan tim Al-Tsaqafah hampir saja mencetak gol, sayang peluang emas Saroji yang berhadapan langsung dengan kiper gagal dimanfaatkan dengan baik. babak pertama berakhir imbang tanpa gol.

Di babak kedua, saya mengubah strategi. Sakha masuk menggantikan Rifa’i untuk menambah daya gedor lini depan. Pergantian ini cukup ampuh, gempuran dari lini tengah dan depan berkali-kali menyulitkan pertahanan lawan. Di awal pertandingan babak kedua, tim Al-Tsaqafah berbalik menekan An-Nuriyah.

Memanfaatkan, kelelahan tim lawan, kecepatan di sisi sayap kanan dan kiri (Ilham dan Saroji) dan lini depan memberikan tekanan dipertahanan An-Nuriyah. Puncaknya, Saroji, Pandi, dan Sakha Aji, bergantian menjebol gawang Ponpes An-Nuriyah. Skor akhir 5-0, untuk kemenangan Ponpes Luhur Al-Tsaqafah.  Kelima gol Ponpes Luhur Al-Tsaqafah dicetak Pandi 1 gol, Saroji dan Sakha Aji masing-masing 2 gol.

Dua kemenangan ini, membuat rasa percaya diri seluruh tim meningkat. Dan dijadikan semangat untuk mengarungi sisa kompetisi. Dengan hasil ini, mengantarkan Ponpes Luhur Al-Tsaqafah maju keputaran selanjutnya. Selanjutnya, di perempat final, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah akan menghadapi Fisabilillah.

Menjaga momentum dan semangat bertanding tim

Setelah istirahat sepekan, pertandingan perempat final LSN region DKI Jakarta dilanjutkan. Ponpes Luhur Al-Tsaqafah bermain di pertandingan pertama melawan Ponpes Fisabilillah.
Secara postur tubuh, kedua tim terlihat seimbang. Begitu juga dengan kostum kedua tim yang memiliki corak warna kostum yang sama. Sehingga akan terlihat sulit bagi para pemain dan wasit dalam mengenali mana tim AL-Tsaqafah dan mana tim Fisabilillah.

Karena  kesamaan kostum ini, pertandingan tertunda 30 menit. Kedua tim tidak mempunyai seragam lain. Begitu juga dengan panitia, tidak menyediakan seragam lain. Walhasil, pertandingan pun tetap dilanjutkan. Meski kedua tim memakai seragam dengan corak yang sama.

Di awal pertandingan, suporter dan para pemain cadangan tim lawan sudah melakukan provokasi kepada pemain Al-Tsaqafah. Sehingga, suhu pertandingan terlihat panas. Puncaknya, saat Pandi mencetak gol. Salah seorang pemain Al-Tsaqafah, Yasin melakukan selebrasi dengan mengacungkan jari menunjuk ke arah suporter dan pemain cadangan lawan. Sontak saja oficial dan tim cadangan lawan terlihat marah. Puncaknya, salah seorang official tim lawan menghampiri saya, dia tidak suka dengan selebrasi yang dilakukan Yasin. Saya hanya berkata, mari kita jaga pertandingan ini agar tetap berjalan lancar. Babak pertama Al-Tsaqafah unggul 1-0 atas Fisabilillah.

Di jeda pertandingan, saya membawa Yasin ke bench tim lawan dan meminta maaf atas  selebrasinya. Sebenarnya, sah-sah saja, Yasin melakukan selebrasi seperti itu, melihat tekanan dan provokasi dari tim lawan. Tapi, demi kebaikan bersama dan menjaga persaudaraan, saya ajak Yasin untuk meminta maaf. Tim lawan pun menerimanya, dan mereka juga memin maaf. Clear sudah permasalahan tadi yang sempat memanas.

Kembali ke para pemain, saya memberikan instruksi agar lebih fokus dan jangan terpancing emosi dari permainan keras dan provokasi tim lawan. Bermain sabar dan atur tempo permainan, itu kunci kemenagan kalian hari ini.

Alhamdulillah, pada akhirnya pertandingan pun dimenangkan Ponpes Luhur Al-Tsaqafah dengan skor 2-1. Adapun pencetak gol AL-Tsaqafah adalah Pandi dan Mughni Labib. Dengan kemenangan ini Ponpes Luhur Al-Tsaqafah berhasil maju ke babak semifinal.

Antara bangga dan dilema

Sekarang target Semifinal sudah diraih. Dan target awal sebelum kompetisi, sudah tercapai. Selanjutnya, ada dilema dibenak saya, apakah cukup dengan target semifinal ini atau lanjut ke fase final. Jika masuk final, saya dan sebagian pemain banyak yang tidak bisa main. Apalagi, jauh-jauh hari, sebelum kompetisi berlangsung, saya mengatakan kepada semua pemain, kalau acara pernikahan bu Nyai adalah lebih penting dari fina LSN.

“Bagaimana pak, kita sekarang sudah lolos ke babak semifinal. Targetnya sudah terpenuhi. Apa yang harus kami lakukan?” Tanya sebagian pemain. “Oke, yang terpenting target semifinal sudah diraih, sekarang terserah kalian, kalau mau lanjut sampai final silahkan, dan jika kalah pun tidak apa-apa, karena ini target kita. Kalau masuk final itu bonus buat kalian”. Jawab saya.

Di semifinal, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah di tantang tim mapan dan berpengalaman Ponpes As-Sidiqiyah, Jakarta Timur.

Jalannya pertandingan semifinal cukup menarik, silih berganti kedua tim saling jual-beli serangan. Namun sayang, disaat pertandingan berjalan menarik, beberapa pemain Al-Tsaqafah mengalami cidera. Satu-per-satu pemain inti Al-Tsaqafah tumbang karena cidera. Di mulai Azka, kemudian menyusul Lutfan, Banu, dan Khareul. Sehingga lubang di pertahanan terbuka lebar. Dan hal ini pun dimanfaatkan penyerang As-Sidiqiyah, Posan pemain naturalisasi dari Thailand membuat gol. Disaat membutuhkan gol penyeimbang, pemain andalan Al-Tsaqafah, Pandi mengalami cidera. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan As-Sidiqiyah 1-0.

Mungkin, ini adalah hasil yang terbaik buat Ponpes Luhur Al-Tsaqafah. Meski demikian,  saya tetap bangga dengan perjuangan para pemain dilapangan selama mengikuti kometisi LSN region DKI Jakarta 2016.

Sampai jumpa di LSN tahun berikutnya, semoga bisa lebih baik lagi, bisa masuk final, hingga mewakili DKI Jakarta di LSN Nasional. Amin.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERSYUKURLAH

BERSYUKURLAH Hendaknya kita sebagai manusia harus beryukur dengan apa yang kita alami saat ini. Karena bagaimanapun juga, itu se...