LIGA SANTRI REGIONAL DKI JAKARTA 2016
“ANTARA KEBANGGAAN DAN KEPERCAYAAN”
Ajang Liga Santri (LSN) Regional DKI Jakarta, adalah momen
bersejarah dan membanggakan bagi tim sepakbola Ponpes Luhur Al-Tsaqafah. Meski langkahnya
terhenti di babak Semifinal, tapi itu adalah satu capaian yang membanggakan bagi
tim PP Luhur Al-Tsaqafah.
Perjuangan Keiikutsertaan
Kisah ini berawal dari salah seorang pengurus pondok yang
memberikan informasi tentang adanya kompetisi Liga Santri 2016, di regional DKI
Jakarta. Kebetulan pengurus tadi sudah masuk di grup resmi LSN regional DKI
Jakarta. Sontak, saya yang mendengar kabar tersebut, tanpa pikir panjang langsung
mencari informasi, dan meminta nomor kontak panitia. Karena saya juga penasaran
dengan ajang LSN yang sudah berlangsung sejak tahun 2015.
Setelah mendapat nomor kontak panitia, saya langsung
menghubunginya. Pada awalnya, pihak panitia memberikan respon yang kurang
bersahabat. Namun, setelah saya memperkenalkan nama pengasuh Ponpes Luhur
Al-Tsaqafah (Buya Said), langsung di respon sangat baik. Pihak panitia langsung
memasukan nama Al-Tsaqafah sebagai peserta, bukan lagi sebagai daftar tunggu. Ketika
melihat di list resmi grup LSN regional DKI Jakarta, nama Ponpes Luhur Al-Tsaqafah
berada di urutan 12 dari 32 peserta.
Tahap Seleksi Pemain
Setelah terdaftar sebagai peserta, saya meminta izin ke pengasuh
dan kepala pondok. Alhamdulillah, pengasuh dan kepala pondok memberikan izin.
Karena telah mendapat izin, maka saya haus bertindak cepat untuk mencari
pemain. Dengan keterbatasan saya, saya menunjuk 22 pemain (dari santri Mts dan
Aliyah) yang biasa bermain sepakbola di lapangan pondok, untuk mengikuti tahap
seleksi.
Setelah mendapat 22 pemain, saya langsung adakan seleksi di
lapangan pondok. Tiga tahapan paling dasar dalam seleksi adalah tentang fisik
pemain, dan teknik dasar permainan sepakbola (pasing, dribling, kontrol, dan
tendangan). Walhasil dari 22 yang mengikuti seleksi, terpilih 18 pemain yang
didaftarkan ke kompetisi LSN.
Berikut 18 nama pemain Ponpes Luhur Al-Tsaqafah : M. Husni, Khaerul Mustofa (Kiper), Azka Auliya, Banu, Gofir,
Lutfan, Mudzakir, Syoleh, Mughni Labib (Bek), Yasin, Irvan Maulana, Mughi,
Tanwiely, Ilham Amalia, Pandi (Tengah), Sakha Aji, Abidzar, Saroji.
Empat pemain yang gagal seleksi adalah Rizky Syawal, Syaeful
Mustaqim, M. Huda, Rony.
Persiapan yang mepet
Waktu kompetisi yang mepet, maka persiapan harus se-efektif mungkin.
Dimulai dari penyusunan jadwal latihan agar tidak bentrok dengan agenda kegiatan
pondok dan belajar sekolah.
Hanya ada waktu tiga hari yang pas untuk jadwal latihan, hari
Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Mengingat waktu kegiatan di pondok cukup padat,
dan anak-anak tidak kecapean, hanya dua
hari waktu yang digunakan latihan (Jum’at sore dan Minggu pagi).
Setiap Jum’at, latihan difokuskan terhadap fisik pemain, teknik
dasar perminan sepakbola (pasing dan kontrol bola), sementara dihari Minggu, latihan
difokuskan pada taktik permainan.
Lapangan yang digunakan untuk latihan di hari Jum’at adalah
lapangan pondok, sementara latihan di hari
Minggu mengunakan lapangan umum yang berjarak sekitar 1 km dari pondok, dengan
membayar sewa lapangan. Untuk membayar sewa lapangan, para pemain patungan. Untuk
berangkat ke lapangan, para pemain berlari. Sementara untuk minum, para pemain membawa air minum dari
pondok. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melatih kebersamaan dan
kekompakan tim.
Technical meeting
Technical meeting diadakan di Sektariat LSN regional DKI Jakarta,
tepatnya di daerah Petamburan, Jakarta Pusat. Pada technical meeting ini,
hampir semua kontestan hadir. Dipimpin langsung oleh ketua LSN regional DKI
Jakarta, Bpk Sumarsono dan Bpk. M. Kusnaeni (komentator sepakbola ternama
Indonesia) yang akrab di telivisi.
Dari hasil technical meeting, ada poin-poin penting pada
penyelenggaraan LSN, yakni diantaranya tentang kewajiban pemain (seragam tim,
seragam kaos kaki, pelindung kaki). Sementara untuk venue/stadion yang
digunakan selama babak penyisihan sampai semi final berlangsung di stadion
Ragunan (stadion yang pernah digunakan latihan tim Persija), dan untuk partai
final di stadion GOR Brojo Soemantri, Kuningan, Jakarta.
Adapun hasil drowing/undian, tim Ponpes Luhur Al-Tsaqafah akan
berhadapan dengan tim Ponpes Miftahiyah, Clincing, Jakarta Utara.
Seragam
Persoalan lain dari mepetnya kompetisi, adalah seragam tim. Ponpes Luhur
Al-Tsaqafah belum mempunyai seragam tim, kaos kaki dan pelindung kaki (deker).
Sepulang technical meeting, saya mengumpulkan para pemain untuk
memberitahukan hasil dari technical meeting. Point-point hasil technical
meeting saya sampaiakan emua kepada pemain, mulai dari seragam, jadwal
pertandingan, hingga lawan yang akan dihadapi.
Dalam pertemuan tersebut, dengan nada bercanda, saya berkata kepada
semua pemain, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah bisa masuk ke Semifinal.
Itu kayakinan dan tekad saya, yang ingin saya tularkan juga ke
seluruh pemain. Saya berharap, kata-kata tadi bisa memompa semangat dan
keyakinan seluruh pemain, agar tidak minder dalam berkompetisi dan berani
bermimpi. Semua pemain mengaimininya.
Tapi, pak, kenapa targetnya hanya semi final, kenapa tidak final
atau juara ?? tanya beberapa pemain. “Kalau nanti kita lanjut ke partai final,
kita tidak akan bisa main.” Jawab saya.
“Loh, kenapa bisa begitu, pak ?” tanya pemain lagi. ”Karena pas
partai final, acaranya bentrok dengan acara pernikahan Ibu Nyai. Jadi, acara
itu lebih penting dari LSN. Jadi, sebagai santri yang baik dan sebagai bentuk
ta’dzim, kita harus lebih memilih acara keluarga besar Al-Tsaqafah.” Jawab
saya.
Besoknya, saya membeli perlengkapan pemain (seragam tim, kaos kaki,
dan pelindung kaki). Saya mencari seragam yang identik dengan warna kebanggan
Ponpes Luhur Al-Tsaqafah, yaitu hijau. Alhamdulilah, seharian itu perlengkapan
tim bisa didapatkan semuanya.
Sekarang tinggal fokus kepemantapan strategi dan kekompakan pemain
selama dilapangan.
Persiapan Terakhir sebelum laga Perdana
Untuk latihan terakhir, saya fokuskan pada mental dan teknik permainan,
mulai teknik individu, pemanmanfaatan bola mati, mengantisipasi bola mati dari
lawan, serta kekompakan permainan secara tim. Sementara, untuk pola yang akan
dipakai adalah 4-2-3-1. Pola ini adalah faforit saya sejak menjadi pemain.
Karena pola ini sangat kuat dalam bertahan dan menyerang. Keunggulan lainnya
adalah permainan cepat dari sektor sayap (ilham di kanan dan Saroji di kiri),
serta kemampuan tendangan jarak jauh dari sektor gelandang serang (pandi), dan
pemanfaatan peluang oleh striker (Sakha), akan menjadi faktor pembeda.
Selain latihan teknik dan taktik, di hari terakhir latihan
diberikan pengarahan tentang sikap pemain selama di dalam maupun diluar lapangan.
Seperti menghormati teman, menghormati wasit dan pemain lawan, bersalaman
dengan pelatih dan pemain lain sebelum maupun sesudah bertanding, menjunjung tinggi
sprotifitas, tos tim, dan berdo’a bersama sebelum dimulai maupun sesudah
bertanding.
Alhamdulillah, semua itu bisa dijalankan semua pemain selama
mengikuti kompetisi LSN regional DKI Jakarta 2016.
Vini, Vidi, Vici
Mendapat jadwal bertanding pertama, pada jam 08.00 wib. Ada
kekhawatiran jika datang terlambat dan terkena Walk Out (Wo). Maka, untuk
mensiasatinya, tim harus sudah jalan menuju lapangan pukul 06.00 wib.
Alhamdulillah perjalanan menuju lapangan lancar.
Waktu sudah menunjukan jam 08.00 wib, tim lawan pun sudah berada
dilapangan, begitu juga dengan Panitia. Sebelum pertandingan dimulai, saya
memberikan pengarahan dan pemantapan tim terakhir, agar semua pemain bermain
dengan lepas tanpa beban dilapangan. Biasanya, pertandingan perdana, semua
pemain masih gugup. Untuk mengatasinya adalah dengan bermain tenang dan kompak.
Alhamdulillah, instruksi dan arahan bisa dijalankan dengan baik
para pemain dilapangan. Pertandingan pertama Ponpes Luhur Al-Tsaqafah menang atas
Ponpes Al-Miftahiyah dengan skor 3-1 (pencetak gol ; Pandi, Yasin, Saroji).
Kemenangan ini, membawa tim Ponpes Luhur Al-Tsaqafah lolos ke babak
selanjutnya. Di babak 16 besar, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah akan mengahadapi tim
Ponpes An-Nuriyah. Pertandingan ini bertajuk Derby Ciganjur, karena kedua tim
sama-sama berasal dari Ciganjur. Bahkan, jarak keduanya hanya 500 m.
Bermain Sabar dan Taktis adalah kuncinya
Dipertandingan kedua, saya memberi instruksi kepada pemain agar
bermain cerdas, sabar, dan disiplin. Karena melihat kondisi kedua tim sudah
bermain di pagi hari, sehingga kondisi para pemain belum 100 persen fit. Tim
yang efektif dan bisa mengatur tempo permainan bisa dikatakan akan menjadi
pemenangnya.
Dipertandiangan kedua, strategi yang akan digunakan di babak
pertama adalah dengan membiarkan tim lawan bermain menekan dengan intensitas
tinggi, dan membiarkan tim lawan menyerang
dengan mengeluarkan tenaga yang banyak, sementara kita menunggu, dan
memanfaatkan serangan balik cepat. Terbukti, taktik ini cukup ampuh, bahkan tim
Al-Tsaqafah hampir saja mencetak gol, sayang peluang emas Saroji yang
berhadapan langsung dengan kiper gagal dimanfaatkan dengan baik. babak pertama
berakhir imbang tanpa gol.
Di babak kedua, saya mengubah strategi. Sakha masuk menggantikan
Rifa’i untuk menambah daya gedor lini depan. Pergantian ini cukup ampuh,
gempuran dari lini tengah dan depan berkali-kali menyulitkan pertahanan lawan.
Di awal pertandingan babak kedua, tim Al-Tsaqafah berbalik menekan An-Nuriyah.
Memanfaatkan, kelelahan tim lawan, kecepatan di sisi sayap kanan
dan kiri (Ilham dan Saroji) dan lini depan memberikan tekanan dipertahanan
An-Nuriyah. Puncaknya, Saroji, Pandi, dan Sakha Aji, bergantian menjebol gawang
Ponpes An-Nuriyah. Skor akhir 5-0, untuk kemenangan Ponpes Luhur Al-Tsaqafah. Kelima gol Ponpes Luhur Al-Tsaqafah dicetak
Pandi 1 gol, Saroji dan Sakha Aji masing-masing 2 gol.
Dua kemenangan ini, membuat rasa percaya diri seluruh tim
meningkat. Dan dijadikan semangat untuk mengarungi sisa kompetisi. Dengan hasil
ini, mengantarkan Ponpes Luhur Al-Tsaqafah maju keputaran selanjutnya. Selanjutnya,
di perempat final, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah akan menghadapi Fisabilillah.
Menjaga momentum dan semangat bertanding tim
Setelah istirahat sepekan, pertandingan perempat final LSN region
DKI Jakarta dilanjutkan. Ponpes Luhur Al-Tsaqafah bermain di pertandingan
pertama melawan Ponpes Fisabilillah.
Secara postur tubuh, kedua tim terlihat seimbang. Begitu juga
dengan kostum kedua tim yang memiliki corak warna kostum yang sama. Sehingga
akan terlihat sulit bagi para pemain dan wasit dalam mengenali mana tim
AL-Tsaqafah dan mana tim Fisabilillah.
Karena kesamaan kostum ini,
pertandingan tertunda 30 menit. Kedua tim tidak mempunyai seragam lain. Begitu
juga dengan panitia, tidak menyediakan seragam lain. Walhasil, pertandingan pun
tetap dilanjutkan. Meski kedua tim memakai seragam dengan corak yang sama.
Di awal pertandingan, suporter dan para pemain cadangan tim lawan
sudah melakukan provokasi kepada pemain Al-Tsaqafah. Sehingga, suhu
pertandingan terlihat panas. Puncaknya, saat Pandi mencetak gol. Salah seorang
pemain Al-Tsaqafah, Yasin melakukan selebrasi dengan mengacungkan jari menunjuk
ke arah suporter dan pemain cadangan lawan. Sontak saja oficial dan tim
cadangan lawan terlihat marah. Puncaknya, salah seorang official tim lawan
menghampiri saya, dia tidak suka dengan selebrasi yang dilakukan Yasin. Saya
hanya berkata, mari kita jaga pertandingan ini agar tetap berjalan lancar. Babak
pertama Al-Tsaqafah unggul 1-0 atas Fisabilillah.
Di jeda pertandingan, saya membawa Yasin ke bench tim lawan dan
meminta maaf atas selebrasinya. Sebenarnya,
sah-sah saja, Yasin melakukan selebrasi seperti itu, melihat tekanan dan
provokasi dari tim lawan. Tapi, demi kebaikan bersama dan menjaga persaudaraan,
saya ajak Yasin untuk meminta maaf. Tim lawan pun menerimanya, dan mereka juga
memin maaf. Clear sudah permasalahan tadi yang sempat memanas.
Kembali ke para pemain, saya memberikan instruksi agar lebih fokus
dan jangan terpancing emosi dari permainan keras dan provokasi tim lawan.
Bermain sabar dan atur tempo permainan, itu kunci kemenagan kalian hari ini.
Alhamdulillah, pada akhirnya pertandingan pun dimenangkan Ponpes
Luhur Al-Tsaqafah dengan skor 2-1. Adapun pencetak gol AL-Tsaqafah adalah Pandi
dan Mughni Labib. Dengan kemenangan ini Ponpes Luhur Al-Tsaqafah berhasil maju
ke babak semifinal.
Antara bangga dan dilema
Sekarang target Semifinal sudah diraih. Dan target awal sebelum
kompetisi, sudah tercapai. Selanjutnya, ada dilema dibenak saya, apakah cukup
dengan target semifinal ini atau lanjut ke fase final. Jika masuk final, saya
dan sebagian pemain banyak yang tidak bisa main. Apalagi, jauh-jauh hari,
sebelum kompetisi berlangsung, saya mengatakan kepada semua pemain, kalau acara
pernikahan bu Nyai adalah lebih penting dari fina LSN.
“Bagaimana pak, kita sekarang sudah lolos ke babak semifinal.
Targetnya sudah terpenuhi. Apa yang harus kami lakukan?” Tanya sebagian pemain.
“Oke, yang terpenting target semifinal sudah diraih, sekarang terserah kalian,
kalau mau lanjut sampai final silahkan, dan jika kalah pun tidak apa-apa,
karena ini target kita. Kalau masuk final itu bonus buat kalian”. Jawab saya.
Di semifinal, Ponpes Luhur Al-Tsaqafah di tantang tim mapan dan
berpengalaman Ponpes As-Sidiqiyah, Jakarta Timur.
Jalannya pertandingan semifinal cukup menarik, silih berganti kedua
tim saling jual-beli serangan. Namun sayang, disaat pertandingan berjalan menarik,
beberapa pemain Al-Tsaqafah mengalami cidera. Satu-per-satu pemain inti
Al-Tsaqafah tumbang karena cidera. Di mulai Azka, kemudian menyusul Lutfan,
Banu, dan Khareul. Sehingga lubang di pertahanan terbuka lebar. Dan hal ini pun
dimanfaatkan penyerang As-Sidiqiyah, Posan pemain naturalisasi dari Thailand
membuat gol. Disaat membutuhkan gol penyeimbang, pemain andalan Al-Tsaqafah,
Pandi mengalami cidera. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan
As-Sidiqiyah 1-0.
Mungkin, ini adalah hasil yang terbaik buat Ponpes Luhur
Al-Tsaqafah. Meski demikian, saya tetap
bangga dengan perjuangan para pemain dilapangan selama mengikuti kometisi LSN
region DKI Jakarta 2016.
Sampai jumpa di LSN tahun berikutnya, semoga bisa lebih baik lagi,
bisa masuk final, hingga mewakili DKI Jakarta di LSN Nasional. Amin.